Makam Kuno Sayu Atika di Bukit giri, Banyak Masyakrat Sekitar Meyakini Makam Ibunda Sunan Giri

Banyuwangi, detik1.com – Dari sekian banyak perjalanan spiritual ke makam kuno ziarah ke salah satu makam buyut Dewi Sayu Atika atau Dewi Reni Sekardadu di Bukit Giri, desa giri, kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi, Minggu (20/3/2022).

Salah satunya pesarean atau yang biasa di sebut makam buyut sayu atika, yang biasa di panggil oleh masyarakat dengan eyang putri ayu antika, Makam yang terletak ada di bukit giri Desa giri, makam tersebut banyak di kunjungi oleh masyarakat dalam kota, maupun luar kota.

Ibunda Sunan Giri Dewi Reni Sekardadu atau Sayu Atika menikah dengan Maulana Ishak maka lahirlah bayi mungil yang kelak menjadi salah satu penyebar Islam di Pulau Jawa, Sunan Giri.

Dewi Sekardadu merupakan sekar kedaton (bunga istana) putri kesayangan Prabu Minak Sembuyu, Raja Blambangan (Banyuwangi). Konon Sekardadu menderita sakit akut yang tak kunjung sembuh maka diadakan sayembara, “,barang siapa yang berhasil menyembuhkan penyakit sang putri maka ia akan dijadikan suaminya. Akhirnya seorang alim ulama bernama Maulana Ishak berhasil menyembuhkan sakit yang diderita Dewi Sekardadu.

Doc. Makam Sayu Atika

“Kehadiran Maulana Ishak di daerah Blambangan lama-kelamaan ternyata kurang disukai Minak Sembuyu dan para elit Blambangan. Maulana Ishak dituduh mempengaruhi masyarakat sekitar yang kala itu masih memeluk agama Hindu. Ketidakcocokan diantara keduanya menyebabkan Maulana Ishak memilih meninggalkan Blambangan.

Kemarahan Minak Sembuyu juga berujung pada diusirnya Dewi Sekardadu dan para punggawa kerajaan Blambangan diperintahkan membuang sang jabang bayi. Bayi hasil pernikahan Dewi Sekardadu dan Maulana Ishak itu ditempatkan dalam peti yang dipaku rapat kemudian dihanyutkan ke samudera. Sebagai seorang ibu, Dewi Sekardadu tak kuasa menahan rasa sedih dan akhirnya memilih untuk mencari sang buah hati dengan cara apapun.

Dewi Sekardadu tak berhasil menyelamatkan bayinya dan ikut hanyut dalam ganasnya ombak lautan lalu meninggal. Yang unik, hampir dibebarapa daerah Jawa Timur mengklaim ada makam Dewi Sekardadu. Apakah ini wujud kecintaan masyarakat atau rasa empati pada Dewi Reni Sekardadu.

“Masyarakat Lamongan sangat meyakini kalau desanya yang menjadi tempat makam sebenarnya dari Dewi Sekardadu. Masyarakat menyebut Dewi Sekardadu sebagai Mbok Rondo Gondang yang artinya ibu janda yang terusir. Alasannya, kala itu Dewi Sekardadu memang meninggalkan Blambangan karena diusir Minak Sembuyu. Selain itu ia tak ingin membiarkan bayinya (Sunan Giri) di tenggelamkan.

Bahkan di Sidoarjo ada dua tempat yang mengklaim kalau makam Dewi Sekardadu ada di desa mereka, tepatnya desa Ketingan (Kepetingan), Sawohan-Buduran-Sidoarjo. Konon, asal nama Desa Ketingan yang berada di area tambak dekat laut itu diambil dari nama ikan keting (seperti lele) yang berjasa membantu menepikan jasad Dewi Sekardadu setelah tenggelam saat mencari bayinya. Berikut, desa Buncit Sedati juga ada makam Dewi Reni Sekardadu, yang masuk dalam kawasan tanah Juanda.

Sementara bayi yang berada dalam peti dan dipaku rapat diombang-ambingkan oleh ombak lautan, akhirnya ditemukan oleh anak buah Nyai Ageng Pinatih di kawasan Laut Gresik. Nyai Ageng Pinatih merawat sang bayi dengan penuh kasih hingga menyekolahkannya ke pesantren Sunan Ampel di Surabaya. Kelak ia tumbuh menjadi manusia dewasa dengan nama Raden Paku atau Jaka Samudera. Setelah mendapat tempaan ilmu dari para wali pendahulunya beliau bergelar Sunan Giri.

Masyarakat Gresik meyakini kalau makam Dewi Sekardadu justru berada di Blambangan yang sekarang dikenal dengan nama Banyuwangi. Sebagai anak yang berbakti kepada ibundanya, Sunan Giri juga melakukan ziarah ke pusara Dewi Sekardadu di Banyuwangi. Karena jarak yg sangat jauh maka Sunan Giri meminta pada Allah agar makam Dewi Sekardadu beserta bukitnya dipindahkan ke kota dimana beliau mengajarkan Islam pertama kali.

Dan dikabulkan, tiba-tiba muncullah suara gemuruh, anak dan istri beliau sempat ketakutan dengan suara itu. Secara gaib makam Dewi Sekardadu yang tak lain ibundanya sendiri itu beserta bukitnya muncul di sebelah selatan pesantren (Giri Kedaton) yang didirikannya. Tempat dimana makam berada kemudian dinamakan Desa Gunung Anyar karena gunungnya anyar/baru.

Dimakam itu ada beberapa makam, pertama atas nama Panembahan Mas Gunung Anyar dan satunya lagi tak disebutkan namanya. Berdasarkan silsilah diketahui kalau Panembahan Mas Gunung Anyar merupakan keturunan ke-4 dari Sunan Giri.

Lalu dimanakah makam Ibunda sunan giri yang sebenarnya, hanya allah yang tau. Banyak sekali yang meyakini di daerah – daerah lain makam ibunda sunan giri.

(Lukman/Ronal)

error: