Kunjungi Purworejo, Anggota Komisi III DPR RI Gelar Dialog Warga Wadas

Purworejo
Anggota Komisi III DPR RI Gelar Dialog Warga Wadas

PURWOREJO – Pemberitaan tentang adanya kekisruhan saat pengukuran tanah untuk penambang batu andesit (Quary) sebagai pendukung pembangunan Bendung Bener di Kabupaten Purworejo, mendapat perhatian dari anggota Komisi III DPR-RI.

Kamis (10/2/2022) rombongan anggota DPR-RI Komisi III yang di pimpin Wakil Ketua Komisi III dari Partai Gerindra Desmond Junaedi Mahesa mendatangi langsung warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dan melakukan dialog dengan kedua kelompok warga yang setuju maupun yang tidak setuju serta mendengarkan apa yang menjadi keluhan warga masyarakat, sekaligus melihat keadaan warga masyarakat serta situasi Desa wadas yang sesungguhnya.

Bertempat di halaman masjid di dukuh Winong, Desmond Junaidi Mahesa yang juga ditemani Asrul Sani (PPP) Nasir Jamil (PKS), Binsar Panjaitan (Demokrat), Safarudin (PDI P), Taufik Basari (Nasdem), Opon (Demokrat), Sukriansah (Golkar) dan Gilang (PDI P), mengadakan dialog dengan warga masyarakat yang setuju tanahnya untuk di ukur dan di tambang batu andesitnya.

Salah satu warga yang setuju (Pro) menyatakan merelakan tanahnya untuk di ukur dan di tambang dengan alasan karena untuk mendukung Proyek Stategi Nasional (PSN) yang nantinya untuk kepentingan Negara Sementara warga lain yang setuju juga berharap setelah di ukur untuk segera di bayar sehinnga kami bisa membeli tanah lagi juga untuk mengembangkan usaha.

Di tempat terpisah rombongan Komisi III juga mendengar alasan dari warga yang belum menerima adanya penambangan Quarry di desa Wadas.Selain alasan tidak menerimanya adanya tambang batu andesit di Desa Wadas rombongan juga menanyakan kebenaranya adanya kericuhan antara warga dan aparat kepolisian dalam pengukuran tanah yang di lakukan BPN.

Salah satu warga yang belum menerima (kontra) mengatakan bahwa masyarakat Desa Wadas takut kehilangan mata pencaharianya yang mayoritas warganya adalah petani.

 

Selain itu juga takut bencana longsor kalau tanah yang di atas di tambang dan di ambil batu andesitnya,pokoknya masyarakat mayoritas menolak adanya tambang katanya.

Kericuhan yang terjadi antara masyarakat dengan Polisi saat warga melakukan mujahadah di masjid di picu dengan adanya anggota Polisi yang berpakaian preman melakukan penangkapan warga yang ada di depan masjid dan di borgol kemudian di bawa ke Polsek Bener.

Saat ini semua warga yang di tahan sudah di kembalikan lagi ke rumahnya masing masing.

Di hadapan warga masyarakat Desmond menjelaskan bahwa Desa Wadas bukan desa yang berdampak langsung dari pembangunan bendungan Bener,akan tetapi merupakan pendukung material batu andesitnya sebagai material pendukung pembangunan bendungan, jadi di Desa Wadas warga masyarakatnya tidak ada yang salah atau melanggar aturan hukumnya.
Warga Desa Wadas semuanya punya hak untuk menolak maupun menerima rencana penambangan batu andesit.

Oleh karena itu Komisi III datang ke sini untuk mendengar dan melihat langsung apa yang terjadi di Desa Wadas.
Dari hasil kunjungan anggota Komisi III DPR-RI bisa disimpulkan bahwa apa yang terjadi di Desa Wadas tidak seperti apa yang ada di pemberitaan medsos. Penjelasan dan pemahaman tentang manfaat dan dampak yang akan timbul dari penambangan batu andesit perlu di sampaikan dengan komunikasi yang baik.

Oleh karena itu setelah ini komisi III akan mengadakan pertemuan dengan pihak yang terkait, terutama dengan Kapolda untuk membahas apa yang terjadi di Desa Wadas meminta jaminan keamanan kepada semuanya.

Harapanya kedepan semua warga Desa Wadas bisa kembali beraktivitas normal seperti biasa dan saling menghormati hak hak warga yang berkaitan dengan quarry tanpa ada tekanan tekanan baik dari kelompok pro dan kontra dan juga hak dilindungi keamananya dari aparat penegak hukum. (Alx)

error: